Mikobakteria adalah bakteri aerob, berbentuk batang, yang tidak membentuk spora. Walaupun tidak mudah diwarnai, jika telah diwarnai bakteri ini tahan penghilang warna (dekolorisasi) oleh asam atau alkohol dan karena itu dinamakan basil “tahan asam”. Mycobacterium tuberculosis menyebabkan tuberculosis dan merupakan patogen yang sangat penting bagi manusia. Mycobacterium leprae menyebabkan lepra. Mycobacterium avium-intracellulare (kompleks M avian) dan mikobakteria apitik lain yang sering menginfeksi pasien AIDS, adalah patogen ortunistik pada orang-orang dengan fungsi imun yang terganggu lainnya, dan kadang-kadang menyebabkan penyakit pada pasien dengan sistem imun yang normal. Terdapat lebih dari 50 spesies Mycobacterium, antara lain banyak yang merupakan saprofit.
morfologi dan identifikasi
ciri khas organisme: dalam jaringan, basil tuberkel merupakan batang ramping lurus berukuran kira-kira 0,4X3 µm. Pada perbenihan buatan, terlihat bentuk kokus dan filamen. Mikobakteria tidak dapat diklasifikasikan sebagi gram positif atau gram negatif. Sekali diwarnai dengan zat warna basa, warna tersebut tidak dapat dihilangkan dengan alkohol, meskipun dibubuhi iodium. Basil tuberkel yang sebenarnya ditandai oleh sifat”tahan asam”-misalnya 95% etil alkohol yang mengandung 3% asam hidroklorida (asam alkohol) dengan cepat akan menghilangkan warna semua bakteri kecuali mikobakteria. Sifat tahan asam ini tergantung pada integritas struktur selubung berlilin. Teknik pewarnaan ziehl-neelsen dipergunakan untuk identifikasi bakteri tahan asam. Pada dahak atau irisan jaringan, mikobakteria dapat diperhatikan karena memberi fluoresensi kuning-jingga setelah diwarnai dengan zat warna fluorokrom (misalnya auramin, rodamin).
Biakan: perbenihan untuk biakan primer mikobakteria sebaiknya meliputi perbenihan nonselektif dan perbenihan selektif. Perbenihan selektif mengandung antibiotik untuk mencegah pertumbuhan berlebihan bakteri dan jamur. Terdapat tiga formulasi umum yang dapat dipergunakan untuk perbenihan selektif maupun nonselektif.
Perbenihan agar semisintetik: perbenihan ini (misalnya, middlebrook 7H10 dan 7H11) mengandung garam tertentu, vitamin, kofaktor, asam oleat, albumin, katalase, gliserol, glukosa, dan malasit hijau; perbenihan 7H11 mengandung juga hidrosilat kasein. Albumin menetralisir efek toksik dan efek penghambatan asam lemak dalam bahan atau perbenihan. Inokula yang besar menimbulkan pertumbuhan pada perbenihan dalam beberapa minggu. Karena inokula besar mungkin memerlukan perbenihan ini jadi mungkin kurang sensitif dari perbenihan lain untuk isolasi primer mikobakteria. Perbenihan agar semisintetik digunakan untuk pemantauan morfologi koloni, untuk uji kepekaan, dan dengan penambahan antibiotik sebagai perbenihan selektif.
Perbenihan telur tebal: perbenihan ini (misalnya lowenstein-jensen) mengandung garam tertentu, gliserol, dan substansi organik kompleks (misalnya telur segar atau kuning telur, tepung kentang, dan bahan-bahan lain dalam bentuk kombinasi). Malasit hijau dimasukan untuk menghambat bakteri lain. Inokulasi kecil dalam bahan yang berasal dari pasien akan tumbuh pada perbenihan ini dalam waktu 3-6 minggu. Dengan penambahan antibiotik, perbenihan ini digunakan sebagai perbenihan selektif.
Perbenihan kaldu: perbenihan kaldu (misalnya middlebrook 7H9 dan 7H12) mendukung proliferasi inokula kecil. Biasanya, mikobakteria tumbuh dalam bentuk kelompok atau sebagai sekelompok massa, akibat ciri khjas hidrofobik permukaan selnya. Jika ditambahkan tweens (ester asam lemak yang dapat larut dalam air), ini akan membasahkan permukaan, dan karena itu memudahkan penguraian pertumbuhan dalam perbenihan cair. Pertumbuhan seringkali lebih cepat dibandingkan pada perbenihan kompleks. Perbenihan 7H12 dengan penambahan antibiotik, suplemen, dan asam 14C palmitat adalah dasar untuk sistem biakan BACTEC untuk mikobakteria. Selama pertumbuhan mikobakteria menggunakan asam 14C palmitat, melepaskan 14CO2, yang terdeteksi oleh mesin. Biakan positif dapat dideteksi dengan sistem ini dalam waktu kurang lebih 2 minggu.
Siaft-sifat pertumbuhan: mikobakteria adalah aerob obligat dan mendapat energi dari oksidasi berbagai senyawa karbon sederhana. Kenaikan tekanan CO2 meningkatkan pertumbuhan. Aktivitas biokimianya tidak khas, dan laju pertumbuhannya lebih lambat dari kebanyakan bakteri lain. Waktu penggandaan basil tuberkel adalh sekitar 18 jam. Bentuk saprofit cenderung tumbuh lebih cepat, berkembangbiak dengan baik pada suhu 22-23oC, menghasilkan lebih banyak pigmen, dan kurang tahan asam dari pada bentuk yang patogen.
Reaksi terhadap faktor fisik dan kimia: mikobakteria cenderung lebih resisten terhadap faktor kimia dari pada bakteri yang lain karena sifat hidrofobik permukaan selnya dan pertumbuhan bergerombol. Zat-zat warna (misalnya hijau malakit) atau antibiotika (misalnya pinisilin) yang bersifat bakteriostatik terhadap bakteri lain dapat dimasukkan ke dalam perbenihan tanpa menghambat pertumbuhan basil tuberkel. Asam dan basa memungkinkan sebagian basil tuberkel yang terkena tetap hidup; sifat ini dipergunakan untuk memekatkan bahan pemeriksaan dari klinik dengan membunuh sebagian organisme lain yang mengkontaminasi. Basil tuberkel cukup resisten terhadap pengeringan dan dapat hidup lama dalam dahak yang kering.
Variasi: variasi dapat terjadi pada bentuk koloni, pembentukan pigmen, produksi faktor “cord”, virulensi, suhu pertumbuhan optimal, dan sifat-sifat sel atau sifat pertumbuhan lainnya.
Patogenisitas mikobakteria: Terdapat perbedaan yang jelas dalam hal kemampuan berbagai mikobakteria untuk menyebabkan lesi pada berbagai spesies inang. Manusia dan marmut sangat rentan terhadap infeksi Micobacterium tuberculosis, sedangkan unggas dan sapi bersifat resisten. Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis sama-sama patogenik terhadap manusia. Jalur infeksi (melalui sistem pernafasan atau saluran pencernaan) menentukan pola lesi. Di negara berkembang, Mycobacterium bovis sangat jarang ditemui. Beberapa mikobakterium “atipik” (misalnya Mycobacterium kansasii) menyebabkan penyakit manusia yang tidak dapat dibedakan dari tuberkulosis; bakteri lain (misalnya Mycobacterium fortuitumi) hanya menyebabkan lesi permukaan tau berperan sebagai oportunis.


